#kamisnostalgia ke 9

IMG_2722

Keterangan Foto :

Tanggal           : 25 Mei 2014

Lokasi              : Long Bagun, Kutai barat, Kaltim

Di foto untuk kamis nostalgia kali ini, adalah sebuah foto kaki memakai sepatu boot karet dengan hampir semua bagian sepatu di penuhi lumpur. Foto kaki tersebut adalah foto kaki saya sendiri, yang saya ambil saat rehat tarik nafas di tengah hutan belantara yang sedang kami lakukan survey darat bersama dengan team geologis perusahaan kami.

Tempat yang saya singgahi ini bisa di bilang tempat paling terpelosok, terjauh, ter pedalaman yang pernah saya datangi. Tempat ini dapat dijangkau dengan terbang menggunakan pesawat ke balikpapan, dilanjut jalan darat selama 13 jam menuju kota Tering, Kutai Barat, begitu sampe di kota kecil pinggiran sungai ini, perjalanan di lanjut dengan menggunakan perahu kecil menuju long bagun selama 4 jam perjalanan, sampe?? Belum sodara sodara sodara, desa long bagun tersebut adalah titik 0, dimana istilah itu kami sebut agar memudahkan identifikasi posisi selama menuju ke dalam hutan sejauh 135 KM ( mata anda tidak salah, yess 135 KM masuk ke dalam hutan ).

Sampe sekarang kalo di bayangkan, masih bikin geleng geleng kepala sendiri, itu 135 KM ke dalam hutan bukan di jalan lurus nan mulus ber aspal, tapi tanjakan gila gila an dilanjut turunan curam yang kiri atau kanannya jurang, perjalanan 135 KM tersebut di tempuh sekitar 6 jam klo cuaca cerah, klo cuaca hujan bisa satu hari, karena ada titik titik dimana jalur di lalui oleh aliran sungai, jadi kalau cuaca hujan dan aliran sungai tinggi, otomatis mobil tidak bisa lewat, intinya klo bukan anak yang punya modal nekat dan jiwa edan di alam pasti minta pulang, pasti!!

Balik ke foto ini sendiri, foto ini diambil saat saya sedang tarik napas istirahat panjang saking capeknya, jadi hari itu saya dan team geologis di tugaskan masuk hutan untuk survey darat, perjalan kami tempuh dengan berjalan kaki ke dalam hutan, perjalanan ini makin terasa agak suram karena kami hanya bermodalkan GPS dan team di pecah, jadi tiap team harus pintar atur logistic dan paham baca GPS, yang lebih masalah lagi, jalur yang kami lewati adalah kebanyakan jalur rawa berlumpur, yang membuat boot kami sering terjebak di dalam lumpur dalam, dan cara sedikit bodoh yang kami lakukan tapi satu satunya paling logis saat boot terjebak adalah dengan melepaskan kaki dari boot dan mencari area yang agak sedikit keras untuk pijakan si kaki yang sudah lepas dari boot tersebut, dan di lanjut menarik si boot yang terpelosok dengan kedua tangan, kalo masih terlalu keras, keruk keruk lah area sekitar boot agar lebih gampang menariknya. Dan percayalaaahhhh ini menarik di kejadian 1 dan ke 2, untuk kejadian ke 3 dan seterusnya ini sangat sangat bikin emosi dan menguras fisik.

Diantara capek pengen istirahat tapi harus kejar kejaran sama hari yang mulai gelap, karena di perencanaan kami, kami kembali ke base camp saat sore, karena tidak bawa logistic untuk menginap dalam hutan, jadi terbayangkan kah, dengan sisa tenaga se adanyaa harus banyak banyak menyemangati diri dengan berbohong kalo ini sudah dekat, keajaiban terjadi saat hampir gelap, kami bertemu bulldozer yang sedang akan di service sehingga harus balik ke base camp, team seketika berteriak sorai gembira seperti menang undian ratusan juta, akhirnya pasti juga pulang tanpa berjalan kaki, kami semua naik ke bulldozer dan diantarkan ke basecamp tepat saat magrib tiba, klo tanpa si dozer mungkin tengah malam kami tiba karena fisik sudah minus dan badan sudah tidak bisa di bohongi kalo posisi si basecamp masih jauh ternyata.

Kami kira setelah sampe di basecamp sudah tidak ada lagi kejutan yang bikin team tercengang, kejadian sangat seru selanjutnya adalah, di saat kami pulang dari titik 0, tidak ada perahu yang standby dari pagi, setelah kami tunggu tunggu sampe sore tiba, akhirnya ada juga perahu yang mau mengantarkan kami ke kota Tering, permasalahannya adalah, perahu kami saat malam harus melawan arus dan ditambah resiko bertemu balok kayu hanyut yang bisa saja menghantam perahu dan lambung perahu pasti pecah dan hanyut lah kami pasti di telan arus, tapi dikarenakan sudah tidak ada opsi karena besok nya pesawat kami sudah menunggu untuk mengantarkan kami ke balikpapan, ( perjalanan kami balik dengan opsi berbeda untuk mengindari 13 jam jalan darat ) kenapa pesawatnya ga di undur? Karena pesawatnya hanya seminggu sekali, karena pertimbangan itulah mau ga mau resiko harus di ambil. Saat naik ke perahu, kami menanyakan ke tukang perahu soal life vest (pelampung ), dan dengan entengnya dia bilang “ga ada mas” kami pun saling memandang satu sama lain ( dalam hati yaa ampun segini amat sihh cobaannya ), singkat cerita 4 jam perjalanan yang kami tempuh ditengah gelap malam menyusuri sungai tersebut kami lalu dengan sunyi senyap, berdoa semoga tidak ada apa apa. Dan begitu sampai rasanya lega bangeeetttttttt, dan dalam hati, klo ditanya mau lagi ga? Jawabnya fix tidak dalam waktu dekat, hahahahaha. Ya mau sih asal persiapan nya tidak se nekat malam yang barusan kami lalui.

Itulah salah satu moment perjalanan ke daerah antah berantah yang paling berkesan selama hidup, bersyukurlah mereka mereka yang hanya terhadang macet di jalan dalam pekerjaannya, terbayang mereka mereka yang kerja jauh dalam hutan, yang jika sakit atau kenapa kenapa harus menjalani perjalanan yang sangat sangat jauh dari aman dan layak?

Semua terkadang hanya soal bersyukur atau tidak, karena semua pekerjaan punya tantangannya masing masing.

 

 

Advertisements

#kamisnostalgia ke 8

Ini pascal

Keterangan Foto

Lokasi              : Studio pribadi Adri Maulana

Tanggal           : 4 November 2006

 

Edisi kamis nostalgia ke 8 ini di post berbarengan sama yang ke 7 soalnya minggu lalu sedikit lupa plus sedikit sok sibuk makanya baru sempat post sekarang, semoga konsisten, hidup kamis nostalgia!!

Dannnnnn, foto aib yang kali ini berkesempatan menyeruak ke permukaan adalah foto band saya dari SMP, hahahahha. Yupp, dikarenakan saya dan mereka mereka ini banyak teracuni band band terkenal saat itu, dan kebetulan saat itu anak sekolahan baik SMP-SMA memang umum buat bikin band demi bisa menirukan idola idola kami di TV, ada beberapa yang cuma bolak balik mondar mandir studio music, ada juga yang cukup gila sok sok an bikin recording, trus kasih demo ke sekolah sekolah yang mau adain pensi dan sejenisnya, yess itulah kami, sejujurnya skill kami jauh dari bener, apalagi jago, tapi saat itu di pikiran kami daripada mabok ga jelas mending maen band, ya ga? syukur syukur jadi rock star beneran, hahahaha.

Foto ini sebenernya di ambil saat kami sudah mulai kuliah, dan bisa di bilang foto foto terakhir sebelum akhirnya saya cabut dari band ( bahasaaaaaaaaa nya keren ye, hahaha ) dikarenakan memang jadwal kuliah awal awal masuk yang sangat tidak berkompromi dengan jadwal latihan band, maklumlah anak kuliahan baru masih semangat semangatnya kuliah, abis itu sih pahamlahh…

Band ini ber anggotan Esa ( gitar ), Abi ( bass ), Angga ( gitar ), Adri ( drummer ), bayu ( vocal 1 ), dan saya sendiri vocal perusak, hahahahha. Formasi awal kami dari SMP hingga berjalaan saat SMA dan kuliah ini, cukup awet tanpa gonta ganti formasi macam band kelas atas, soalnya kami masih jauh di garis bawah memang, Cuma ada dua pergantian personil selama kurang lebih 7 tahun band ini berdiri, di bass yang dulunya pandu, berganti ke Abi, dikarenakan pandu punya band punk yang kurang se aliran sama kami, dan pergantian di posisi drummer yang dulunya Argi di gantikan adik argi sendiri Adri, kenapa Argi cabut, soalnya kebanyakan pacaran, sampe waktu ga ada, dan kenapa itu jadi masalah, soalnya semuanya yang lainnya, jomblo kurang kerjaan, itulah kenapa kami nge band, karena menurut kami tidak masalah start jadi anak band jomblo, biar nantinya pas terkenal bisa gonta ganti pacar macam anak band beneran ( mimpi kejauhan, hahahha ).

Oh iyaa, nama band kami adalah PASCAL, beraliran rock cemen ( rock keras engga, lembek melow juga engga ) dan kenapa namanya pascal, kerena keren an aja pas dengar hukum pascal pas diajarin di kelas, simple lah, ngapain amat ribet ribet pake nama aneh aneh. Secara jam terbang, band kami ga jelek jelek banget lah, sempat menjajal panggung di beberapa pensi sekolahan walaopun Cuma 2 seinget saya ( lumayan lah daripada Cuma 1 ), tapi yang paling keren buat saya sebenernya adalah kami punya materi lagu yang kami ciptakan sendiri dan itu sampai 7 lagu klo tidak salah, pokoknya gini gini kami pernahlah macam artis band yang masuk studio buat ngulik ngulik bikin lagu, biar bagaimanapun buat kami itu adalah karya, bagus jelek itu itu subjektif, sama hal nya ada yang cinta mati dengar band Seringai, tapi ada juga yang komen “ ini lagu apa sih marah marah berisik ga jelas”. Semua hanya soal selera.

Kabar terakhir band ini sudah bubar, selepas saya pergi cukup banyak gonta ganti personil, tapi cukup lama bertahan juga sebelum semuanya perlahan mundur dan memilih realistis mengejar prioritas hidup nya, salutlah buat anak anak band yang merintis dari saat sekolah ataupun kuliah dan bertahan lama hingga bisa akhirnya rilis album apalagi sampe terkenal ( yang punya album dan ga terkenal itu banyak soalnya ) karena bagi waktu dan bagi ego itu susah, sangat sangat susah, harus yang benar benar punya komitmen yang bisa survive jadi anak band, kami adalah contoh gagal, tapi walaopun gagal, setidaknya kami pernah mencoba menikmati masa muda yang berlari kencang mengejar mimpi kami.

Dan sekarang kami sedang berlari mengejar mimpi mimpi kami yang lain.

#kamisnostalgia ke 7

GPA

Keterangan foto

Lokasi                  : Gunung Munara

Tanggal                : Sekitar tahun 2003

Di kamis nostalgia kali ini, foto yang saya share adalah foto Pengenalan Alam atau biasa kami singkat PA, ini adalah salah satu tahapan dari 3 tahapan untuk secara resmi di angkat menjadi anggota penuh organisasi siswa pecinta alam atau biasa di singkat SISPALA di SMA kami dulu, nama organisasi GPA ( Group Pecinta Alam ) kami ini adalah Columba Livia, artinya merpati yang terbang bebas ( kerennn yeeeh.. )

Kenapaa foto ini berkesan??

Salah satunya adalah moment makan di daun pisang ini, jadi acara makan ini adalah penutup dari rangkaian acara pengenalan alam, salah satu rangkainnya adalah melewati sungai, jadi terbayang kah, setelah capek tracking, dan dingin dinginan masuk aliran sungai, di tutup makan ala kekeluargaan ini, ga terasa lapar sih, tapi seru aja, jarang jarang bisa makan modelan gini, walaopun agak semi barbar sih tapi disitu berkesannya.

Kesan lainnya adalah, aduhaayyy itu body kurus kurus bangett ( termasuk yang nulis ini ), krempeng krempeng klo bahasa internasional nya, hahaha, belom kenal asupan asupan terlarang yang masuk ke badan, sangat sehat jasmani dan rohani sekali. Jangan ditanya klo sekarang? hahahahha

Nama orang orang disekitar saya secara menakjubkan masih ter hapal dengan baik di kepala saya, yang perempuan di sebelah kiri saya yang posisi tidak jelas antara berdiri atau jongkok adalah, Bunga komala sari, bias kami panggil Kokom ( jauhhhh yahh, kasihan nama bagus bagus dipanggil kokom, hahaha ), update kabar sudah tinggal di USA sama laki nya yang orang bule juga, di sebelah kanan saya Reza Ashuri a.k.a Brokol ( dipanggil karena rambutnya yang punya bakat mendekati brokoli ), update kabar sudah nyaman tenang menjalani profesi sebagai orang dinas Imigrasi, dan tentunya dengan rambut cepak pastinya. Di depan saya Zendy Ricky, sohib saya ini bisa di bilang yang paling mendekati arus organisasi kepecinta alaman sekarang, dia sembari kerja normal, berkecimpung di kegiatan sosial untuk pendidikan anak, konsep nya semacam 1000 guru, tapi dengan form yang berbeda, salut lah, soalnya deposito amal nya klo besok di panggil pecinta pasti sudah lumayan banyak ini orang.Disebelah Zendy, Widi, nah untuk yang satu ini jujur kurang update info, secara nih anak emang sudah jarang kumpul kalopun ada event event, jadinya ya sedikit lost contact lah, semoga masih diberi sehat dan makmur sentosa. Oke yang sebelahnya Widi adalah Hamim dan Adam, klo hamim baru bekeluarga dan bekerja di salah satu Bank nasional, sedangkan si Adam resmi berpakaian coklat coklat dengan perut tidak buncit seperti pada Polisi umumnya, hahahha.

Inilah keluarga kecil saya waktu di SMA dan bahkan sampe detik ini,  keluarga sederhana yang tidak mengenal harta baru kumpul, kamilah orang orang yang setiap kumpul yang kami pikirkan adalah bagaimana bisa bertualang di alam dengan uang seminim mungkin, dan terbukti sukses, bersama mereka saya bisa mengenal banyak tempat, gunung, pantai dll dengan konsep ngeteng a.k.a numpang apapun yang bisa di tumpangin, seng penting sampe, hahahahha.

Salam RIMBA..!!!! Hidup Columba Livia.

 

#kamisnostalgia ke 6

IMG_1605

Keterangan foto : Sanga sanga, kalimantan Timur, 21 Oktober 2013

Kembali ke kamis nostalgia, kali ini foto yang saya share adalah foto yang di ambil 3 tahun lalu di Sanga sanga, kalimantan Timur

Jadi saat sepulang kerja dan kembali ke mess, sudah didapati seekor ular sawah sepanjang kurang lebih 3 meter yang sedang dirundingkan untuk di apakan, akhirnya kami putuskan lah untuk mengirim si ular ke surga, agar dia bertobat sudah menjerumuskan manusia ke dalam dosa.

Permasalahan nya adalah, bagaimana cara membunuh ular ini yang jadi diskusi panjang, karena tidak ada yang begitu pengelaman di antara kami, setelah merundingkan cukup lama dan atur strategi serta posisi, seperti di foto inilah posisi kami, jadi bagian yang jadi sasaran utama adalah kepalanya dulu, agar si ular lemah berdaya dan badannya tidak melilit, secara besar badannya udah hampir segede paha, klo kena kelilit remuk pasti tulang tangan.

Saya sendiri karena kebetulan puji Tuhannya tidak takut binatang, kebagian yang ngurus kepala, jadi setelah kami pegang kepalanya, kami lilit dengan tali dan setelah itu kami ikatkan ujung satu ke tiang tandon air, dan sisi tali yang satu saya pegang erat sampe si kepala benar benar putus setelah kami iris lehernya, sisanya memegang ujung badan agar tidak melilit, proses ini ternyata lama sekali, bahkan setelah kepala si ular putus pun, si badan seperti masih menyimpan tenaga untuk meliuk meliuk, semacam punya power bank terpisah kayaknya.

Setelah resmi kami kirim ke sorga si ular, proses lanjutannya dalah mengupas habis si kulit dimulai dari bagian kepala hingga ekor dan itu susahnya bukan main. Dan setelah beres kami masak dengan 2 model masakan, sebagian kami rica rica, sebagian kami goreng tepung.

Rasanya? hmmmm… yaa sama kayak makan daging biasa sih, tapi yang ini lebih berserat karena otot mungkin, dan tulangnya sendiri ternyata cukup banyak dibanding dagingnya.

Oh iya, ada beberapa orang yang nanya setelah kami kirim si ular ke sorga, ” ga didatangin di mimpi?” saya jawab “engga tuh, lagian ngapain juga dia datangin ke mimpi, mau minta kirim ke neraka, gara gara kurang cocok suasana di sorga?”

Dan ini penampakan si kepala ular

IMG_1606

Demikianlah foto nostalgia dari pria pria kurang kerjaan di site, padahal tinggal beli pecel ayam ke sebelah aja lebih hemat tenaga dan uang daripada ginian, tapi sensasi nyaaa itu bung! hahahahha

Salam #kamisnostalgia

 

#kamisnostalgia ke 5

1936036_1115729179064_184047_n

foto tanggal 3 Mei 2005

Foto yang masih sangat sukses bikin saya bernostalgia dengan senyum senyum sendiri sampe saat ini, klo di foto ini sebenarnya tidak ada yang terlalu spesial selain muka muka polos anak SMA kelas 3 IPA 3 dengan baju seragam olahraga yang tidak ada keren kerennya plus pose masing masing yang agak sedikit bikin geli sih, terutama yang bagian depan dengan gaya gaya ajaib nya, pahamlah, seperti biasa yang belakang anak anak manis kalem, yang depan yang pasti biang rusuh nya kelas

Yang paling jadi moment adalah sebelum sesi foto ini terjadi, jadi foto ini di ambil setelah kami melakukan pengambilan nilai untuk senam berkelompok, jadi tiap kelas di haruskan membuat gerakan senam sendiri dalam kelompok kelompok yang ditentukan, nah karna tidak mau repot, kelas saya hanya di bagi dalam 2 kelompok, cewe dan cowo, simple tidak ribet. Setelah kelompok di bagi, yang jadi permasalahan adalah di antara kami para lelaki tidak ada yang punya bakat banci tampil dengan gerakan tarian tarian ga jelas, otomatis tiap kali mau latihan, selalu kami sepakat dan mufakat untuk bilang “udahlah ntar ntar ajee, masih belum kebayang gerakannya”

Selang hanya 2 minggu klo tidak salah sebelum pengambilan nilai, barulah kami pusing harus punya gerakan senam yang gimana, setelah latihan  yang cukup menggelikan, akhirnya rampunglah gerakan senam kami, yang sumpahhh playlistnya ajaib ajaib, gerakannya pun apalagi, yang masih saya ingat beberapa lagu pengiring gerakan senam kami adalah, lagu Jamrud yang Dokter suster, Kura kura Ninja, dan pendinginnya kami melakukan semacam gerakan balet dengan iringan lagu Ada band yang Ayah. Sayang video atau rekaman kami senam tidak ter abadi kan.

Bersyukurlah saya cukup menikmati masa masa SMA dengan maksimal, dan punya banyak moment untuk di ceritakan, dari moment paling bandel, rusuh, sampe ke moment manis yang menggelikan jijik kali klo dingat, tapi satu hal yang pasti, semuanya penuh kesan.

#kamisnostalgia ke 4

IMG_0044

Foto 2 Meret 2013

 

Di edisi #kamisnostalgia ini, seperti biasa saya akan menshare satu foto yang berkesan buat saya dan cerita di balik itu

Tenang saudara saudara, ini bukan foto yang menimpa saya, tapi lebih tepatnya ini foto kejadian 3 tahun lalu yang menimpa mobil teman kantor saya. Seperti terlihat, ini adalah foto bagian depan sebuah mobil APV yang bisa dikatakan hampir hancur remuk, dikarenakan oleh kejadian tabrakan beruntun di sekitar tol menuju bandung dan puji Tuhannya itu bukan karena saya ( dan semoga jangan sampe, Amin )

Sedikit mundur ke belakang, ceritanya salah satu direktur di perusahaan kami akan akan menikahkan anak di bandung, dan kami semua karyawan head office di undang untuk menghadiri, beliau bahkan sudah menyiapkan akomodasi hotel untuk menginap, bersemangat lah kami, hitung hitung liburan bareng.

Di sabtu pagi ini berangkatlah kami 3 mobil dari kantor, mobil APV ini dikendarai oleh bu Ranty, dan duduk dibelahnya adalah anaknya sekitar umur 3 tahunan, saya sendiri sudah menawarkan diri untuk menyetir mobil bu Ranty ke bandung, tapi beliau bilang “nanti aja ri gantian, gw dulu aja” okeh, dan kebetulan isi mobil sudah penuh dan toh akan konvoi juga, saya duduk di mobil lain sebagi penumpang.

Begitu melewati sekitar pintu tol bekasi timur, kondisi jalanan memang padat merayap sesekali terhenti, maklumlah sabtu pagi, dan entah kenapa tiba tiba mobil bu ranty yang memang berada di sebelah mobil yang saya tumpangi secara mendadak menabrak dengan kencang mobil Avanza di depannya, saking kencangnya, mobil avanza di depannya menabrak mobil didepannya lagi, dan terjadilah tabrakan beruntun dengan korban 3 mobil. Menurut bu ranty fokusnya teralihkan sama anaknya yang sedang melakukan sesuatu sehingga pedal kopling terlepas dan mobil melompat ke depan dan menabrak mobil didepannya yang memang sedang rapat merayap.

Singkat cerita bu ranty yang masih sedikit syok menyerahkan tongkat kemudi ke saya, sebenarnya kami sudah menawarkan untuk beliau pulang saja, toh isi mobilnya masih muatlah kami selip selipkan di dua mobl lainnya, tapi entah karena beliau sudah janji akan datang, lanjutlah kami.

Disinilah sisi seru nya buat saya pribadi, pernah bayangkan mengendarai mobil yang penyok sepanjang perjalanan ke bandung yang padat, dengan hampir semua mata langsung melirik kejam ke si pengemudi, padahal bukan saya yang bikin penyok?? Sumpahhh bukan aing!!

Sakit mennnnnn, maluuuuuu, sumpah maluuu di liatin orang orang yang walaopun ga ngomong tapi matanya sudah menghakimi.

Mata mata yang melirik dari dalam mobilnya masing masing itu serasa mata penuh penghakiman, tapi itu masih belum ada apa apanya saat sudah masuk bandung, dengan keramaian bandung super gila gilaan di saat weekend, segitu banyaknya orang mondar mandir di pinggir jalan terus mata mereka tertuju ke bamper depan dan langsung seperti ibu ibu di tukang sayur yang sedang bergosip, entah apa isi atau tuduhan mereka yang pasti dari gerak jari mereka ke saya si pengemudi, kok rasanya seperti jadi pelaku pencopetan tapi bukan saya yang melakukan, duhhh malunyaa, tapi apa daya, bu ranty ini memang tipikal selektif buat nyerahin kunci mobil dia, dan kebetulan sudah beberapa kali klo ada acara kantor, dan beliau lagi kurang nyaman nyetir, pasti yang diminta nyetir itu saya, walaopun stock laki laki yang bisa nyetir kantor saya banyak.

Oh iya, ada sedikit tambahan kisah seru pula, saat si bemper yang hampir hancur, akhirnya copot juga dari kaitannya, menepilah kami, dan semacam langsung pecah tim cari apa aja yang bisa dipakai untuk mengikat si bamper, entah kawat, tali atau apapun, sampai sampai tong sampah pun kami bongkar ( yaolohhhh liburan sih liburan tapi gini gini amatlah, hahahha )

Hari sabtu nya masih malu bawa itu mobil korban perang muter muter bandung, hari minggu nya sudah bodo amat lah, bahkan kami masih sempat muter muter bandung buat nyari oleh oleh dan parfum dengan sangat pede nya, terserah lah orang mau bilang apa, yang penting saya pake kacama hitam dan nyetir serasa mobil yang saya kendarai baik baik saja.

Saat pulang tiba, dan si mobil ini cukup tangguh dengan stabil di pacu ngebut pulang menuju Jakarta.

Pengalaman yang sedikit bikin malu tapi seru dan semogalah jangan ada lagi kejadian gini

Oh iya buat yang punya anak anak, lebih hati hati klo bawa dia duduk depan, takut fokus kita terpecah dan kejadianlah seperti mobil bu ranty ini.

Kaki yang sekolah dan tidak sekolah

Pernah dengar “pantes aja boros bensin lo, kaki lo ga disekolahin sih”

Buat yang anggota atau sekedar baca baca forum pecinta mobil, pasti pernah dengar komen seperti diatas, biasanya ini ditujukan buat para pengendara mobil yang kakinya susah lepas dari pedal gas, maunya gas terus, klo perlu bejek sampe lantai ( walaopun hampir ga mungkin sih pedal gas mobil mentok lantai, hahaha )

Jadi kenapa saya terpikir dan teringat istilah ini, jadi ceritanya kemarin rabu, saya menggunakan mobil travel untuk ke Pontianak dari kota Sambas, karena memang akan berencana pulang ke Jakarta, mobil kami start dari Sambas pukul 2 malam, dan posisi duduk saya berada di tengah sebelah kiri, jalanan yang harus di tempuh ini kurang lebih sekitar 220 KM, dan model jalannya banyak track lurus, dan jalanannya kecil cuma 2 jalur, jadi harus pintar pintar atur timing buat nyalip, apalagi klo tronton atau truk besar didepanya, yang memang biasanya truk baru keluar saat malam.

Lepas dari kota Sambas sebenarnya saya masih belum berasa ada yang beda dengan si supir, dan saya punya kebiasaan untuk melihat cara menyetir orang, si supir ini ( masih muda sekitar 30an ) punya skill yang oke soal timing untuk nyalip, tapi satu yang bikin saya wahh adalah, dia hampir selalu bisa menstabilkan posisi jarum di angka 100 km/jam, atau dalam model Innova yang kami pake, posisi jarum penunjuk kecepatan berada tegak lurus ke atas, alias stabil di 100 km/jam.

Awalnya saya pikir, ahh kebetulan, tapi kok makin saya perhatikan jarum penunjuk spidometernya bisa stabil cukup lama, baru paling entah di tikungan agak tajam atau kondisi nunggu nyalip yang membuat kecepatan mobil sedikit turun, makin semangat saya memperhatikan, apalagi di kondisi jalanan kosong pun, dia tidak termakan nafsu untuk lebih dari 100 km/jam, padahal klo saya yang bawa, kaki rasanya gatal sekali untuk ngebut dikondisi seperti ini, apalagi Innova yang secara body cukup yahud di kebut di atas 120 km/jam, beda sama Avanza yang baru kena 120 km/jam body pasti akan terasa sekali “ngambang” nya atau sedikit lari. Dan satu lagi, si supir tidak terpaku ke spido, matanya fokus ke depan, terbukti jam terbang tinggi nih supir, pengalaman banget.

Kok bisa yah?? dalam pikir saya. Mungkin inilah yang klo ada istilah sebutan kaki yang disekolahin itu pasti yang model gini nih, pintar salip yang didepannya tanpa membuat body limbung dengan kecepatan terukur ( ada model driver yang klo nyalip maksa gas sampe jerit jerit ga karuan ), tapi di kondisi kosong pun santai dengan 100 km/jam.

Bicara 100 km/jam sendiri relatif sih, buat sebagain orang terutama wanita wanita dan orang tua, kecepatan ini cukup menakutkan, tapi untuk sebagian masih menganggap ini kecepatan biasa. Saya sendiri termasuk tipikal penyuka adrenalin menyetir dengan kecepatan tinggi, walaopun tidak yang gila gilaan, sampe 180 atau 200 km/jam. Salah satu moment terbaik menyetir saya adalah di saat melewati Tol JORR pukul 3 malam, ceritanya  saat itu saya sedang fokus fokusnya menikmati kecepatan 110 -120 km/jam dengan kondisi jalanan tol JORR yang sangat asik tikungan tikungannya, mendekati bintaro, tiba tiba mobil saya di salip mobil BMW E46 dari kiri dengan cepat sekali, dalam hati, aihhhh mak, ini aja udah 120 km/jam, dia cepet banget, dan sebagai sesama type mobil terpancinglah saya, duet lah kami melewati mobil mobil lain yang seakan parkir, saya fokus sekali dan sangat menikmati sekali, inilah kelebihan BMW, stabil senyap waloapun di bawa diatas 130 km/jam, saking asyiknya saya tidak liat spidometer sedikitpun, untungnya saya masih sempat liat plang di atas, bawah saya sudah harus keluar di Pondok Aren, dan saat itulah saya liat spido dan takjub sendiri, wuihhhh 160 km/jam, gilaaaaaaa, seumur umur baru ini kecepatan tertinggi saya mengendarai mobil, dan jantung kenceng banget begitu sadar saya barusan nyetir di kecepatan segitu.

Kembali ke istilah kaki di sekolahin atau tidak, klo boleh mengukur diri sendiri, kelihatannya kaki saya sudah sekolah, tapi belom tinggi tinggi banget, masih suka khilaf kadang kadang buat injak gas dalam dalam, oh iya di jalanan Sambas-Pontianak itu rata rata ditempuh dengan 4-4,5 jam kondisi tidak terlalu santai, dan umumnya travel travel pun demikian, tapi catatan terbaik saya pernah tembus 3,5 jam, sampe saya sendiri pun kaget, lohhh udah sampe aja, hahahha.

Ini bukan soal sombong bisa ngebut, tapi lebih ke mengukur diri, disaat banyak penumpang dimobil yang saya kendarai terutama bokap nyokap biasanya saya akan jadi supir yang manis sekali, soalnya klo bokap liat saya ngebut biasanya bokap paling komplain dan bilang ” ga usah ugal ugalan, udah banyak yang mati ugal ugalan karna sombong di jalan” lemes lah saya klo sudah di ultimatum pake bawa mati sekali, hahahha.

Semoga seiring jam terbang, kaki saya lebih pintar lagi dalam bersekolah, dan yang lebih penting jangan sampe terjadi hal hal buruk di jalanan, aminnnn.